Susah Call, SMS delay, BBM tidak
bisa, internet lemot dan entah ada berapa banyak lagi keluhan pelanggan seluler
yang bisa ditemukan baik di surat-surat pembaca maupun di media-media online.
Atau kalau kurang nylekit lagi, coba baca komentar – komentar di detikinet.com
jika ada tulisan yang berisi berita sebuah operator seluler.
Salah satu penyebab yang
terlintas di pikiran adalah penurunan tarif yang menjadi strategi hampir semua
operator seluler seolah – olah tidak dibarengi dengan analisa kemampuan
perangkat dalam memberikan layanan seluler. Akhirnya ketika terjadi overload, langkah
tabrak sana – sini pun diambil.
Pada saat kuliah dulu, di salah
satu Bidang Studi di Teknik Elektro terdapat satu mata kuliah Optimasi Sistem.
Sementara di Bidang Studi yang lain juga terdapat mata kuliah Artificial
Intelligence/Kecerdasan Buatan. Skripsi atau tugas-tugas akhir dari mahasiswa
yang tertarik ke bidang ini sangat menarik. Mulai robotika, image recognition,
text to speech atau sebaliknya, dynamic routing with genetic algorithm
sampai ada yang membuat optimasi sistem penerimaan zakat di suatu daerah
tertentu. Nah lhoo, ternyata skripsinya tidak melulu soal teknis.
Bisakah ilmu – ilmu di atas
mengatasi keluhan – keluhan layanan seluler ini? Jawaban saya, saya optimis
bisa. Jika penerimaan zakat saja yang cenderung sosial dan abstrak saja bisa
dioptimasi apalagi layanan seluler yang terdiri dari perangkat-perangkat dan
perhitungan-perhitungan yang bisa dimodelkan.
Idenya sederhana. Setiap
perangkat yang berhubungan dengan kapasitas layanan, seperti : Trx/Cell Unit,
BTS, BSC, TRAU, MGW/MSC, SMSC dll dimodelkan dengan mengetahui parameter-parameter
seperti kemampuan maksimal perangkat, kapasitas optimal, dll. Demikian juga
dari sisi marketing, perkiraan harga perdana, jumlah pelanggan, tarif voice,
SMS, GPRS, kondisi daerah dll juga dimodelkan.
Hasil pemodelan ini kemudian
dimasukkan ke Sistem Optimasi yang berbasis Artificial Intelligence/AI. Dalam
AI, terdapat dua bagian utama, yakni training/learning (pembelajaran) dan
recognition (pengenalan). Sedangkan metode/teori AI yang digunakan bisa
bermacam-macam. Sistem AI ini secara singkat mengadopsi sifat manusia dalam
mempelajari dan mengenali sesuatu untuk kemudian dijadikan dasar dalam
mengambil keputusan. Misalnya, setelah kita tahu bahwa naik Kereta Api Surabaya
– Jakarta via Jogja lebih jauh maka kita memutuskan akan naik yang via Semarang
saja.
Hasil semua parameter yang telah
dimodelkan tersebut kemudian akan di-training. Dalam training ini, setiap model
akan diberikan input bervariasi, misalnya model Trx akan diberikan input mulai
jumlah kapasitas terendah sampai tertinggi. Demikian juga model yang lain.
Setiap proses training ini akan mensinergikan semua pemodelan, baik teknis
maupun non teknis, menghasilkan suatu paramater hasil training yang kemudian
akan di-recognize/kenali oleh sistem. Jika perlu, hasil recognition ini juga
di-feedback-kan kembali ke input awal untuk kembali di-training.
Proses di atas berlangsung
berulang – ulang. Semakin banyak data yang diberikan ke model untuk di-training
akan mendapatkan hasil recognition yang semakin akurat.
Hasil akhirnya berupa beberapa
parameter sehingga bisa diketahui misalnya untuk daerah A dengan tarif sekian
serta perkiraan jumlah pelanggan sekian dan kapasitas jaringan sekian sudah
membuat jaringan overload. Dan hasil ini bisa jadi berbeda di daerah B.
Jika bisa dibuat lebih spesifik,
mungkin bisa diketahui sampai area per BTS atau bahkan per sektor BTS, misalnya
di BTS A dengan kondisi daerah B dan tarif sekian ternyata sudah optimal
sehingga usaha yang dilakukan adalah me-maintain pelanggan dan penambahan
pelanggan agak di rem. Sementara di BTS C dengan kondisi berbeda dan tarif sama
ternyata belum optimal sehingga di BTS ini perlu dipacu penambahan pelanggan.
Hasil optimal yang didapatkan
adalah penerimaan operator naik, layanan ke pelanggan juga bagus dan diharapkan
tidak ada kartu terbuang karena keluhan pelanggan atas pelayanan operator.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar