Selamat Datang di Blog Himpunan Mahasiswa Elektro UHAMKA

Selasa, 23 Oktober 2012


Telekomunikasi Masa Depan

Para ahli, secara personal maupun institusi, mencoba menggambarkan kondisi telekomunikasi masa depan dengan beragam sudut pandang, pendekatan dan istilah. Ray Kurzweil adalah salah satu ahli yang mencoba memberikan gambaran telekomunikasi masa depan. Dalam bukunya yang berjudul “The age of Spiritual Machines: When Computers Exceed Human Intelligence”, Kurzweil memprediksi bahwa pada tahun 2009 sebuah PC seharga US$ 1000 akan dapat melakukan sekitar satu triliun kalkulasi per detik. Komputer akan menjadi sangat kecil, menempel pada pakaian dan perhiasan. Sebagian besar transaksi bisnis rutin berada di antara manusia dan personalitas virtual. Telepo
n dengan terjemahannya (translating telephone), pemanggil dan yang dipanggil bisa menggunakan dua bahasa berbeda, akan digunakan secara luas di masyarakat. Pada tahun 2019, sebuah PC seharga US$ 1000 akan setara dengan kemampuan komputasional otak manusia. Komputer semakin mudah dioperasikan, tidak terlihat dan menempel dimana saja. Virtual reality sudah dalam tiga dimensi. Sebagian besar interaksi dengan komputer sudah melalui isyarat tubuh (gesture) dan komunikasi ucapan bahasa alami dua arah. Lingkungan realistis yang mencakup segala hal (audio, visual, dan fisik) membuat manusia mampu melakukan sesuatu secara virtual dengan manusia lain, meskipun ada batasan secara fisik. Manusia mulai memiliki hubungan dengan personalitas otomatis, seperti teman dan guru. Gambar di bawah ini mengilustrasikan bagaimana komputer sudahmenempel di pakaian dan bisa berkomunikasi dengan manusia secara real time. Komputer yang sangat kecil bisa ditempelkan di dasi dan tidak terlihat. Jika dasi tersebut kurang rapat maka komputer akan menginformasikan ”I am tied too loosely. Please tighten”. Ketika dompet hilang, komputer yang menempel di jaket akan menginformasikan ”Wallet gone! Wallet gone!”.

Sebagian prediksi pada tahun 2009 sudah mulai terwujud. Perangkat komputer yang semakin kecil dalam genggaman, seperti PDA (Personal Digital Assistant) dan smartphone, sudah banyak digunakan secara komersil dengan harga terjangkau. VerbMobil dan MATRIX adalah dua contoh lain yang berusaha mewujudkan prediksi tahun 2009 tentang telepon dengan terjemahannya (translating telephone).

Speech technology
Pada masa permulaan, telekomunikasi dilakukan menggunakan media dan teknologi yang sangat sederhana. Telekomunikasi saat itu sangatlah sulit sehingga hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu (kebanyakan militer), membutuhkan waktu yang lama, biaya sangat mahal, jangkauan yang relatif pendek (belum bisa antar daratan yang terpisah lautan) dan tidak alami (karena hanya mengandalkan pandangan mata manusia). Pada masa telekomunikasi elektrik, media dan teknologi semakin modern. Telekomunikasi menjadi sangat mudah (bisa dilakukan siapa saja), cepat (real time), lebih murah, jangkauan yang sangat luas sehingga bisa dilakukan antar daratan yang terpisah lautan. Pada masa telekomunikasi berbasis komputer, teknologi yang digunakan semakin canggih sehingga jauh lebih mudah, cepat, dan menjangkau seluruh pelosok dunia. Telekomunikasi sudahbisa menghilangkan batasan lokasi sehigga dunia terasa semakin sempit. Seorang yang
tinggal di Finlandia bisa berkomunikasi dengan orang lain yang hidup di Jepang.

Tetapi, masih ada dua tantangan besar yang harus dihadapi, yakni bahasa dan biaya. Terdapat sekitar 6500 bahasa yang digunakan manusia di seluruh dunia. Apalah artinya teknologi telekomuniasi modern yang menjangkau seluruh dunia jika tidak semua orang mampu menguasai bahasa yang sama (meskipun bahasa Inggris sudah dianggap bahasa internasional). Bagi masyarakat di negara sedang berkembang, biaya komunikasi antar negara masih terasa mahal. Oleh karena itu, para ahli terus berusaha mengembangkan teknologi telekomunikasi yang bisa menjawab kedua tantangan tersebut. Sudah sejak lama para pakar mengembangkan speech technology untuk keperluan tersebut. Speech technology meliputi automatic speech recognition atau speech to text (mengenali apa yang diucapkan manusia atau mengubah suara menjadi teks), speaker recognition (mengenali siapa yang berbicara), speech synthesis atau text to speech (mengubah teks menjadi suara), dan bagaimana cara pengucapannya (mengenali intonasi dan emosi pembicara). Hingga
saat ini sudah banyak teori, software maupun hardware berbasis speech technology yang dihasilkan oleh para ahli secara personal maupun melalui lembaga riset. 

Satu hasil yang sangat penting adalah Speech to Speech Machine Translation (S2SMT) yang merupakan istilah umum yang digunakan untuk sistem translating telephone. Ide dasar S2SMT adalah mengenali suara manusia (apa yang diucapkan) menggunakan automatic speech recognition (ASR) sehingga suara manusia bisa diubah menjadi teks, menerjemahkan teks yang dihasilkan ke dalam bahasa lain yang diinginkan menggunakan Machine Translation, dan mengubah teks hasil terjemahan tersebut menjadi suara menggunakan text to speech. Gambar berikut ini adalah ilustrasi dari S2SMT. 

Riset dan pembangunan S2SMT membutuhkan waktu lama dan biaya sangat besar. Suatu institusi riset seperti Advanced Telecommunication Research (ATR) yang berlokasi di Kyoto Jepang membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun dan biaya milyaran dolar Amerika untuk melakukan riset dan membangun S2SMT yang diberi nama MATRIX. Saat ini MATRIX sudah bisa mengakomodasi 30.000 kata untuk penerjemahan bahasa Inggris-Jepang. Contoh lainnya adalah Verbmobil yang dibangun di Jerman. Verbmobil mampu menerjemahkan bahasa Inggris-Jerman dengan akurasi yang baik meskipun di lingkungan yang bising (seperti di bandara). Verbmobil juga dilengkapi dengan sistem pengambilan kesimpulan dari dialog yang dilakukan. AT&T juga berhasil mengembangkan S2SMT untuk Call Center yang mampu menangani penerjemahan bahasa Inggris-Spanyol dan Inggris-Jepang 

Bagaimana dengan speech technology untuk bahasa Indonesia? Sangat sedikit ahli yang berminat dalam bidang ini. Hasil riset pertama di bidang ini adalah IndoTTS, sebuah software yang bisa mengubah teks ke suara dalam bahasa Indonesia, yang dipublikasikan pada tahun 2000 [7]. Riset yang lebih serius pada bidang ini dimulai pada tahun 2003 dimana TELKOMRisTI bekerjasama dengan ITB dan ATR Jepang membangun Dumband Deaf Telecommunication Systems (DDTS) [7, 8]. Sistem DDTS diaplikasikan pada layanan Emergency Call. DDTS memungkinkan seorang yang bisu dan tuli bisa berkomunikasi melalui komputer (mengetikkan dan membaca teks), sedangkan operator Emergency Call berkomunikasi melalui handset telepon (berbicara dan mendengar). Pada tahun 2005 TELKOMRisTI bekerjasama dengan STT Telkom dan ATR Jepang membangun basis data suara dan basis data teks bahasa Indonesia yang nantinya akan digunakan untuk membangun Large Vocabulary Continuous Speech Recognition(LVCSR) yang sanggup mengenali lebih dari 30.000 kata. Kedua basis data tersebut adalah yang pertama di Indonesia. 

Bagaimana speech technology bisa mengurangi biaya telekomunikasi di masa depan? Pada gambar S2SMT di atas, data yang dilewatkan antar server adalah text yang ukurannya bisa 200 kali lebih kecil dibandingkan voice. Saat ini, hampir semua percakapan telepon menggunakan data berbentuk voice yang berukuran 8 kilo bits per second (Kbps). Jika ucapan kata ”lima” yang diucapkan selama satu detik bisa diubah menjadi teks (dimana satu huruf adalah 8 bit), maka ukuran teks hanya 32 bit per detik. Tetapi, masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Pertama, hingga saat ini speech technology hanya bisa dijalankan di sisi server. Belum ada perangkat telekomunikasi di sisi client (handphone maupun fixed phone) yang menyediakan processor berkecepatan tinggi dan memori besar untuk menjalankan S2SMT. Kedua, speech technology masih membutuhkan riset lebih lanjut untuk menjamin performansinya (akurasi dan kecepatan) layak dipakai secara komersial. Ketiga, komunikasi mungkin akan kurang natural karena suara pembicara harus disintesis menggunakan mesin. 

Penutup
Sejarah perkembangan telekomunikasi memberikan banyak pelajaran bagi kita. Pertama, telekomunikasi selalu berawal di Eropa dan Amerika. Pada masa permulaan, berbagai ide kreatif tentang telekomunikasi bisa muncul akibat adanya perang berkepanjangan. Pembangunan jaringan telekomunikasi secara besar-besaran menggunakan media api, asap maupun semaphore digunakan untuk keperluan militer. Disamping itu masyarakat Eropa dan Amerika juga memiliki daya kreativitas sangat tinggi, kerja keras yang luar biasa, dan penghargaan negara terhadap suatu penemuan sungguh luar biasa. Dalam berbagai buku autobiography, Alexander Graham Bell dan Thomas Alva Edison harus bekerja larut malam untk melakukan ratusan bahkan ribuan percobaan sebelum menghasilkan penemuan-penemuannya [4, 5]. Hingga hari ini, sebagian besar produk teknologi telekomunikasi dihasilkan oleh Amerika dan Eropa: Finlandia (Nokia), Swedia (Ericcson), Norwegia (Arsitektur dan software untuk wireless communication), Jerman (Siemens). Negara-negara tersebut memang memiliki sistem pendidikan yang sangat kondusif bagi tumbuhnya kreativitas dan sikap bekerja keras. 

Pelajaran penting lainnya adalah keterlibatan orang-orang muda berusia 20-an sebagai pelopor perkembangan telekomunikasi. Alexander Graham Bell dan Thomas Watson, sebagai penemu telepon, keduanya berusia 29 dan 22 tahun. Thomas Alva Edison, sejak berusia 20-an, sudah menghasilkan beragam penemuan tentang telegraph dan menghasilkan perbaikan konsep telepon hasil penemuan Graham Bell [5]. Sistem perekam suara (voice recorder) dan bola lampu adalah dua penemuan sangat penting yang
dihasilkan oleh Thomas Alva Edison. Dalam usia 33 tahun, Thomas Alva Edison sudah menjadi orang terkaya di Amerika pada saat itu. Selama hidupnya, tercatat 1093 paten atas namanya [5]. Kasus terbaru yang kita lihat saat ini adalah dua search engine, Yahoo dan Google, yang dibangun oleh beberapa orang mahasiswa yang juga masih sangat muda. Pada era internet ini, warga negara manapun memiliki peluang yang sama untukmenghasilkan kreativitas yang luar biasa. Setiap bagsa memiliki akses yang sama ke internet. Masalahnya terletak pada kemauan untuk bekerja keras. Thomas Alva Edison mengatakan: ”Jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras”. 

Di masa depan, speech technology akan menjadi bidang kajian sangat penting bagi dunia telekomunikasi. Universitas-universitas riset bertaraf internasional di banyak negara berusaha melakukan riset bidang speech technology untuk bahasanya masing-masing. Sebagai institusi pendidikan yang bercita-cita menjadi research university berkelas internasional pada tahun 2017, STT Telkom sudah mulai menyiapkan segala keperluan ke arah tersebut. Beberapa hasil riset sudah dipublikasikan di tingkat internasional, kerjasama dengan institusi internasional juga sudah dilakukan, peningkatan kualitas dosen juga terus menerus dilakukan. Sepuluh tahun yang akan datang, mungkin saja speech technology berbahasa Indonesia atau bahkan berbahasa Sunda akan berhasil diwujudkan oleh mahasiswa atau profesor dari STT Telkom yang berlokasi di Dayeuh Kolot. Jika speech technology tersebut digabungkan dengan S2SMT, maka seorang pengusaha berbahasa Sunda bisa berkomunikasi dengan pembeli yang berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Sebagaimana yang dilakukan para pelopor telekomunikasi, kunci dari semua penemuan teknologi adalah kerja keras. Semoga STT Telkom berhasil mewujudkannya.

Tidak ada komentar: